Senin, 23 November 2009

Qiraah sab'ah


















TURUNNYA AL-QUR’AN DENGAN TUJUH HURUF ( SAB’AH AHRUF )
by Yuli Harmita
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Satu hal yang tak pernah hilang dari ingatan, ialah Al-Qur’an selalu memberi inspirasi yang sangat luas, bagi para pemeluk ajaran Islam telah tertanam dalam hati sanubari mereka, Al-Qur’an adalah petunjuk yang nyata bagi manusi, untuk kesejahteraan di dunia dan akhirat, tetapi bagi para pengagumnya Al-Qur’an tidak hanya sekedar petunjuk dan pedoman hidup yang nyata, mereka diajak menyelam ke dalam lautan ilmu dan menikmati keindahannya yang tak pernah habis untuk dinikmati.
Kecintaan terhadap Al-Qur’an membawa semangat untuk berupaya secara seksama dan penuh keikhlasan. Sejak zaman dahulu pelestarian terhadap Al-Qur’an telah menumbuhkan semangat para sahabat untuk menuliskannya di pelepah kurma, tulang-tulang unta, kulit-kulit binatang, mereka berlomba mempelajari Al-Qur’an dan menghafalnya. Tidak heran bila akhirnya upaya itu semakin berkembang dan melahirkan berbagai ilmu pengetahuan tentang Al-Qur’an.
Di tangan para tabi’in, upaya-upaya sistematis dibangun untuk mempelajarinya, mulai dari kodifikasi, tata cara penulisan al-Qur’an dan juga turunnya Al-Qur’an dengan tujuh huruf. Ditinjau dari berbagai segi Al-Qur’an membuat manusia semakin dipacu untuk terus mendalami dan menyelami kedalaman makna yang tersurat dan tersirat darinya.
Menelusuri dan menelaah sejarah dari sahabat sampai saat ini tentang berbagai upaya manusia terhadap Al-Qur’an dapat saya katakan terdiri dari tiga jenis; pertama, adalah upaya manusia melestarikan dan menjaga Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman. Kedua, upaya manusia mempelajari Al-Qur’an untuk kepentingan ilmiah. Ketiga, upaya manusia mempelajari Al-Qur’an untuk mengurangi, mengaburkan mukjizat Al-Qur’an dan mengingkarinya.
BAB II
MASALAH

1. Apa dalil-dalil turunnya Al-Qur’an dengan Tujuh Huruf ?
2. Apa hikmah turunnya Al-Qur’an dengan Tujuh Huruf ?
3. Apakah Tujuh Huruf itu ada dalam mushhaf-mushhaf sekarang ?
4. Adakah Perbedaan Pendapat tentang pengertian Tujuh Huruf ?


BAB III
PEMBAHASAN

1. Dalil-dalil Turunnya Al-Qur’an
1. Imam Bukhari dan Imam Muslim
Dalam shahihnya meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Jibril membacakan Al-Qur'an kepadaku dengan satu hurut kemudian aku mengulanginya. (Setelah itu) senantiasa aku meminta tambah dan iapun menambahiku sampai dengan tujuh huruf". Imam Muslim menambahkan: "Ibnu Syihab mengatakan: Telah sampai berita padaku bahwa tujuh huruf itu untuk perkara yang satu yang tidak diselisihkan halal haramnya".
2. Imam Bukhari
Meriwayatkan yang lafazhnya dari Bukhari bahwa; Umar bin Khattab berkata: "Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqan di masa hidupya Rasulullah SAW, aku mendengar bacaannya, tiba-tiba ia membacanya dengan beberapa huruf yang belum pernah Rasulullah SAW membacakannya kepadaku sehingga aku hampir beranjak dari shalat, kemudian aku menunggunya sampai salam. Setelah ia salam aku menarik sorbannya dan bertanya: "Siapa yang membacakan surat ini kepadamu?". Ia menjawab: "Rasulullah SAW yang membacakannya kepadaku", aku menyela: "Dusta kau, Demi Allah sesungguhnya Rasulullah SAW telah membacakan surat yang telah kudengar dari yang kau baca ini".
Setelah itu aku pergi membawa dia menghadap Rasulullah SAW lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah aku telah mendengar lelaki ini, ia membaca surat Al-Furqan dengan beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, sedangkan engkau sendiri telah membacakan surat Al-Furqan ini kepadaku". Rasulullah SAW menjawab: "Hai Umar! lepaskan dia. "Bacalah Hisyam!". Kemudian ia membacakan bacaan yang tadi aku dengar ketika ia membacanya. Rasululllah SAW bersabda: "Begitulah surat itu diturunkan" sambil menyambung sabdanya: "Bahwa Al-Qur'an ini diturunkan atas tujuh huruf maka bacalah yang paling mudah!".
Dalam satu riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW mendengarkan pula bacaan sahabat Umar r.a. kemudian beliau bersabda: "Begitulah bacaan itu diturunkan".
3. Imam Muslim
Meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubay Bin Ka'ab ia berkata: "Aku berada di masjid, tiba-tiba masuklah lelaki, ia shalat kemudian membaca bacaan yang aku ingkari. Setelah itu masuk lagi lelaki lain membaca berbeda dengan bacaan kawannya yang pertama". Setelah kami selesai shalat, kami bersama-sama masuk ke rumah Rasulullah SAW, lalu aku bercerita: "Bahwa si lelaki ini membaca bacaan yang aku ingkari dan kawannya ini membaca berbeda dengan bacaan kawannya yang pertama". Akhirnya Rasulullah SAW memerintahkan keduanya untuk membaca.
Setelah mereka membaca Rasulullah SAW menganggap baik bacaannya. Setelah menyaksikan hal itu, terhapuslah dalam diriku sikap untuk mendustakan, tidak seperti halnya diriku ketika masa Jahiliyyah. Nabi menjawab demikian tatkala beliau melihat diriku bersimbah peluh karena kebingungan, ketika itu keadaan kami seolah-olah berkelompok-kelompok di hadapan Allah Yang Maha Agung.
Setelah saya melihat dalam keadaan demikian, beliau menegaskan pada diriku dan berkata: "Hai Ubay! Aku diutus untuk membaca Qur'an dengan suatu huruf lahjah (dialek)", kemudian aku meminta pada Jibril untuk memudahkan umatku, dia membacakannya dengan huruf kedua, akupun meminta lagi padanya untuk memudahkan umatku, lalu ia menjawab untuk ketiga kalinya. "Hai Muhammad, bacalah Qur'an dalam 7 lahjah dan terserah padamu Muhammad apakah setiap jawabanku kau susul dengan pertanyaan permintaan lagi".
Kemudian aku menjawabnya: "Wahai Allah! Ampunilah umatku, ampunilah umatku dan akan kutangguhkan yang ketiga kalinya pada saat dimana semua makhluk mencintaiku sehingga Nabi Ibrahim as". Imam Qurthubi berkata: "Denyutan hati ini (dalam jiwa Ubay) akibat dari sabda Rasulullah SAW ketika orang-orang bertanya kepadanya: "Bahwasanya kami mendapatkan sesuatu dalam diri kami, dimana seseorang merasa berat sekali untuk mengatakannya". Rasulullah SAW bertanya: "Apakah sudah kalian temui jawabannya?". "Ya" jawab mereka. Rasulullah SAW bersabda: "Itu adalah iman yang jelas". (HR. Muslim)
4. Al-Hafizh Abu Ya'la
Dalam musnad kabirnya meriwayatkan: "Bahwa Utsman r.a. pada suatu hari ia berkata di atas mimbar: "Aku sebut nama Allah teringat seorang lelaki yang mendengar Rasulullah SAW bersabda: bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf yang kesemuanya tegas lagi sempurna". Ketika Umar berdiri para hadirin berkata: "Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf yang kesemuanya tegas dan lengkap". Kemudian Utsman r.a. berkata: "Saya menyaksikannya bersama mereka".

5. Imam Muslim
Dengan sanad dari Ubay bin Ka'ab meriwayatkan bahwa Nabi SAW ketika berada di Oase Bani Ghaffar didatangi malaikat Jibril a.s. lalu Jibril berkata: "Sesungguhnya Allah SWT telah memerintah engkau unfuk membacakan Al-Qur'an kepada ummatmu dengan satu huruf". Nabi menjawab: "Aku meminta dulu kepada Allah sehat dan ampunannya, sebab ummatku tidak mampu menjalankan perintah itu".
Kemudian Jibril datang untuk kedua kalinya, seraya berkata: "Allah SWT telah memerintahkan kau untuk membacakan Al-Qur'an dengan dua huruf". Nabi menjawab: "Aku meminta sehat dan ampunan dulu kepada Allah, karena ummatku tidak kuat menjalankannya".
Jibril datang lagi untuk ketiga kalinya dan berkata: "Allah SWT telah memerintahkan kau untuk membacakan Al-Qur'an kepada ummatmu dengan tiga huruf. Nabi menjawab: "Aku minta sehat dan maghfirah dulu kepada Allah, sebab ummatku tidak sanggup mengerjakannya".
Jibril datang lagi untuk keempat kalinya seraya berkata: "Kau telah diperintahkan Allah untuk membacakan Al-Qur'an kepada ummatmu dengan tujuh huruf dan huruf mana saja yang mereka baca berarti benar".
6. At-Turmudzy
Juga meriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab, ia mengatakan: "Rasulullah SAW berjumpa dengan Jibril di gundukan Marwah". Ia (Ka'ab) berkata: "Kemudian Rasul berkata kepada Jibril bahwa aku ini diutus untuk ummat yang ummy (tidak bisa menulis dan membaca). Diantaranya ada yang kakek-kakek tua, nenek-nenek bangka dan anak-anak". Jibril menjawab: "Perintahkan, membaca Al-Qur'an dengan tujuh huruf". Imam Turmudzy mengatakan: "Hadits ini hasan lagi shahih".
Dalam suatu lafazh lain disebutkan: "Barangsiapa membacanya dengan satu huruf saja berarti telah membaca seperti ia (Nabi) membaca".
Dituturkan dalam lafazh Hudzaefah, kemudian aku berkata: "Wahai Jibril bahwa aku diutus untuk ummat yang ummiyah di dalamnya terdapat orang lelaki, perempuan, anak-anak, pelayan (babu) dan kakek tua yang tidak bisa membaca sama sekali". Jibril balik berkata: "Bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf".
7. Imam Ahmad
Mengeluarkan hadits dengan sanadnya dari Abi Qais maula 'Amar bin 'Ash dari 'Amr, "Bahwa ada seseorang ini berdiri sehingga tidak terang membaca satu ayat Al-Qur'an". Kemudian 'Amr berkata kepadanya: "Sebenarnya ayat itu begini dan begini". Setelah itu ia mengatakan hal itu kepada Rasulullah SAW, Rasulullah SAW menjawab: "Sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan dengan tujuh huruf, mana saja yang kalian baca berarti benar dan jangan kalian saling meragukan".
8. Ath-Thabary dan Ath-Thabrany
Meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Ia berkata: "Ada seseorang datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: "Ibnu Mas'ud telah membacakan sebuah surat kepadaku seperti yang telah dibacakan oleh Zaid bin Tsabit dan membacakan pula kepadaku Ubay bin Ka'ab. Ternyata bacaan mereka berbeda-beda. Maka bacaan siapa yang saya ambil?". Rasulullah SAW terdiam, sedangkan shahabat 'Ali berada di sampingnya, kemudian 'Ali berkata: "Setiap orang diantara kalian hendaklah membaca menurut pengetahuannya, karena kesemuanya baik lagi indah".
9. Ibnu Jarir Ath-Thabary
Mengeluarkan hadits dari Abi Hurairah, bahwa ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Al-Qur'an ini diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah semampunya dan tidak berdosa. Tetapi jangan sekali-kali mengakhiri dzikir rahmat dengan adzab atas dzikir 'adzab dengan rahmat".

2. Hikmah Turunnya Al-Qur’an dengan Tujuh Huruf

a. Mempermudah ummat Islam khususnya bangsa Arab yang dituruni Al-Qur'an sedangkan mereka memiliki beberapa dialeks (lahjah) meskipun mereka bisa disatukan oleh sifat ke-Arabannya. Kami ambil hikmah ini dengan alasan sabda Rasulullah SAW: "Agar mempermudah ummatku, bahwa ummatku tidak mampu melaksanakannya", dan lain-lain.
b. Seorang ahli tahqiq Ibnu Jazary berkata: "Adapun sebabnya Al-Qur'an didatangkan dengan tujuh huruf, tujuannya adalah untuk memberikan keringanan kepada ummat, serta memberikan kemudahan sebagai bukti kemuliaan, keluasan, rahmat dan spesialisasi yang diberikan kepada ummat utama disamping untuk memenuhi tujuan Nabinya sebagai makhluk yang paling utama dan kekasih Allah".
c. Dimana Jibril datang kepadanya sambil berkata: "Bahwa Allah telah memerintahkan kamu untuk membacakan Al-Qur'an kepada ummatmu dengan satu huruf". Kemudian Nabi SAW menjawab: "Saya akan minta 'afiyah (kesehatan) dan pertolongan dulu kepada Allah karena ummatku tidak mampu". Beliau terus mengulang-ulang pertanyaan sampai dengan tujuh huruf.
d. Menyatukan ummat Islam dalam satu bahasa yang disatukan dengan bahasa Quraisy yang tersusun dari berbagai bahasa pilihan dikalangan suku-suku bangsa Arab yang berkunjung ke Makkah pada musim haji dan lainnya.

3. Tujuh Huruf itu ada dalam mushhaf-mushhaf sekarang

1. Sekelompok fukaha’, qurra’dan ulama mutakallimin, mereka menyatakan bahwa semua huruf itu ada pada mushhaf Utsmaniyah. Alasan mereka :
a. Tidak diperbolehkan bagi umat ini untuk menyia-nyiakan atau membuang begitu saja sebagian dari beberapa huruf itu.
b. Sesungguhnya para sahabat telah sepakat bahwa mushhaf yang dinuqil Utsman itu adalah huruf yang dituliskan oleh Abu Bakar r.a.
c. Sabda Nabi SAW.: “Sesungguhnya umatku tidak mampu akan demikian”, tidaklah dimaksudkan hanya pada masa sahabat saja, sedangkan kemudahan Al-Qur’an itu bersamaan dengan tetapnya kemukjizatannya.
2. Jumhurul ulama khalaf maupun salaf serta imam-imam kaum muslimin telah memilih bahwa mushhaf-mushhaf Utsmaniyyah memuat ahruf as-saba’ah yang terkandung dalam tulisannya saja serta mengumpulkan pemberian akhir yang permohonannya diajukan oleh Nabi SAW kepada Jibril.
3. Ibnu Jarir Ath-Thabari dan pengikutnya berpendapat bahwa mushhaf-mushhaf Utsmaniyyah hanya memuat satu huruf saja dari ahruf as-saba’ah. Mereka mengatakan ahruf as-saba’ah ada pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar. Akan tetapi keika pada masa Utsman para Imam berpendapat agar mencukupkan pada satu huruf saja untuk menyatukan kalimaul Muslimin. Dan dengan huruf yang satu itulah Utsman menulis semua mushhafnya.
Az-Zarqani berkata dalam kitabnya manahilul Irfan, halaman 662 yang redaksinya sebagai berikut : “Manakala kita menilik kembali “wajah-wajah tujuh” itu pada mushhaf-mushhaf Utsmaniyyah dan apa yang telah tertulis, kita akan menemukan kebenaran yang tidak bisa lagi dibantah. Yaitu bahwa sesungguhnya mushhaf-mushhaf Utsmaniyyah itu memuat ahruf as-saba’ah (tujuh huruf) seluruhnya. Dalam arti, bahwa tiap-tiap satu dari mushhaf-mushhaf itu memuat penulisan yang sesuai dengan huruf-hurufnya secara keseluruhan maupun sebagian, tidak mengubah dalam pengumpulannya dari salah satu hurufnya”.
Syekh Az-Zarqani telah menerangkan bahwa menurut mazhab yang terpilih “wajah-wajah tujuh” itu sampai kini masih ada dalam mushhaf-mushhaf Utsmaniyyah.
Berikut ini contoh, hanya saja sebagian wajah-wajah tujuh itu dikatakan telah dinaskh ”pemberian” yang terakhir.Firman Allah :
     
Disitu lafal al-amaanata, dibaca dalam bentuk jamak atau dibaca mufrad, akan tetapi dalam mushhaf Utsmaniyyah lafal itu ditulis li-amaanatihim, yang hurufnya ditulis mufrad, namun diatasnya terdapat alif kecil untuk mengisyaratkan bacaan jamak, dengan tanpa diberi harakat. ( Manahilul Irfan,hal. 162).

4. Perbedaan Pendapat tentang pengertian Tujuh Huruf

a. Ada segolongan orang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah bahasa Arab itu terdiri dari tujuh bahasa yang digabung menjadi satu, yaitu bahasa Hazil, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yamana.
b. Sebagian orang berpendapat bahwa pengertian tujuh huruf ialah bentuknya yang tujuh. Yaitu, amar, nahi, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal. Hadits dari Ibnu Mas’ud RA kata nabi SAW. Kitab yang pertama kali diturunkan satu bab atas satu huruf. Al-Qur’an itu tujuh Bab atas tujuh huruf. Zajar, amar, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal.
c. Adapula segolongan orang yang mengatakan bahwa pengertian tujuh huruf yaitu bentuknya itu yang tujuh kali berubah, yang jatuhnya itu berbeda-beda.
1. Perbedaan nama-nama dalam mufrad , mudzakar dan cabang-cabangnya. Seperti firman Allah ‘Azza wa jalla dalam surat Al-Mukminun ayat : 8, kalimat amaanatihim () kadang dibaca jamak, kadang pula dibaca mufrad
2. Perbedaan dalam tashrif fi’il, ada yang madhi, mudhari’ dan amar. Misalnya dalam firman Allah ‘Azza wa jalla (As-Saba’ : 19 ), lafal rabbana () kadang dibaca nashab sebagai munada dan lafal baa’id sebagai fi’il amar. Namun kadang juga dibaca rabbunaa ba’ada, lafal rabbun dibaca rafa’ dan lafal ba’ada sebagai fi’il madhi ditasydid ‘ainnya, dan jumlahnya sebagai khabar.
3. Perbedaan dalam ibdal (penggantian), baik penggantian suatu huruf dengan huruf lain seperti dalam firman Allah surat Al-Baqarah : 259. Lafal kaifa nunsyizuhaa(كَيْفَ ئُنْشِزُهَا ) kadang dibaca dengan za dan kadang pula dibaca dengan ra beserta fathah nunnya. Dan firman Allah dala surat Al-Waqi’ah : 29, lafal wa thalhin mandhuudin ( وَطَلْحٍ مَنْضُوْدٍ ) kadang dibaca dengan wa thal’in ( وَطَلْعٍ ) , sehingga disini tidak ada perbedaan antara isim dan fi’il. Atau penggantian lafal dengan lafal lain. Seperti firman Allah dalam surat Al-Qari’ah : 5, lafal kal’ihnilmanfuusy (كَالْعِهَنِ اَلمَنفوس )
4. perbedaan dalam taqdim dan ta’khir ( mendahulukan dan mengakhirkan ) yang adakalanya dalam huruf, seperti firman Allah dalam surat Qaf : 19, wajaa-at sakaratul haqqi bilhaqqi (وَجَاعَتْ سَكَرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقً ), dibaca wajaa-at sakaratul haqqi bil mauti.
5. Perbedaan segi I’rab. Seperti firman Allah dalam surat Yusuf : 31, maa haadzaa basyaran ( ماَهَذاَ بَشَرًأ). Juga dalam surat Al-Buruj : 15, dzuul ‘’arsyil majiidu (ذُواْلعَرْشِ الْمَجِيْدُ ) dibaca rafa’ sebagai na’at dari lafal dzuu, namun kadang juga dibaca jer “al-majiidi” sebagai sifat dari lafal al-‘arsy.
6. Perbedaan dalam ziadah dan naqash ( menambah dan mengurangi ). Seperti dalam firman Allah dalam surat Al-Lail: 3, wamaa khalaqadz dzakara wal untsaa ( وَمَاخَلَقَ الذًكرَ وَاْلأَنْشَى ) dibaca wadz dzakara wal untsaa dengan membuang maa khalaqa.
7. Perbedaan lahjah ( dialek ) dengan tafkhim, tarqiq, imalah, izhar, idghom. Perbedaan seperti ini sangat banyak. Misalnya lafal Musa dalam firman Allah dalam surat Thaha: hal ataaka hadiitsu muusaa kadang dibaca imalah, tetapi boleh juga tidak.
d. Tujuh Huruf adalah wajah-wajah lafal yang berbeda dalam kalimat dan makna yang sama. Contoh: Lafal halumma, aqbil, ta’al, ‘ajal, isra’, qasdhi dan nahwi. Tujuh lafal itu maknanya sama, yaitu minta agar menghadap.
Pendapat ini juga dianggap benar oleh kebanyakan ulama fiqh dan hadits,antara lain Ibnu Jarir Ath-Thahawi serta ulama lain.

KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas dapat saya simpulkan bahwa pengertian tujuh huruf adalah bahasa dari bahasa-bahasa Arab tentang satu arti. Dengan pengertian bahwa terjadinya perbedaan bahasa Arab dalam menta’birkan arti-arti yang terdapat dalam Al-Qur’an dengan lafazh-lafazh menurut ukuran bahasa ini bagi satu arti.
Keberadaan ahruf as-saba’ah ( tujuh huruf ) sesungguhnya merupakan rahmat maupun kelonggaran dari Allah untuk umat ini. Hikmahnya sendiri yaitu, memudahkan bacaan dan hafalan, bukti kemukjizatan Qur’an bagi naluri atau watak dasar kebahasaan orang Arab, kemukjizatan Qur’an dalam aspek makna dan hukum-hukumnya.
Bangsa Arab mempunyai aneka ragam dialek (lahjah) yang timbul dari fitrah mereka. Setiap suku mempunyai format dialek yang tipikal dan berbeda dengan suku-suku lain. Perbedaan dialek itu tentunya sesuai dengan letak geografis dan sosio-kultural dari masing-masing suku. Namun demikian, mereka telah menjadikan bahasa Quraish sebagai bahasa bersama (common language) dalam berkomunikasi, berniaga, mengunjungi ka’bah, dan melakukan bentuk-bentuk interaksi lainnya. Dari keyataan diatas, sebenarnya kita dapat memahami alasan al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Quraisy
Bahasa Rasul adalah bahasa Arab, karena itulah Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Wahyu diturunkan kepada Rasul dengan makna dan lafalnya, maka makna dan lafalnya adalah ciptaan Allah, Rasul mengucapkannya dengan bahasa dari Allah, dan menyampaikannya kepada manusia sebagaimana Allah menyampaikannya kepada Rasul, beliau melukiskannya sebagimana terlukis dalam fikiran dan hafalan, dan megucapkannya sebagaimana disampaikan oleh Allah, Allah mewahyukannya dan Rasul menerima seluruhnya dengan murni, Allah memancarkan wahyu dan menciptakan penjagaannya, maka pengucapan wahyu harus tunduk kepada Allah.



DAFTAR PUSTAKA

Hamid, Shalahuddin.2002. Ulumul Qur’an. Intimedia Ciptanusa. Jakarta.
Manna Khalil- Al, Qattan. 1996. Studi Ilmu Al-Qur’an. Litera Antarnusa. Jakarta
Ash-Shabuni, Syekh Muhammad Ali. 2001. Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis. Pustaka Amani.
Quthan, Mana’ul. 1993. Pembahasan Ilmu Al-Qur’an. Rineka Cipta. Jakarta
Al-Ibyariy, Ibrahim. 1988. Pengenalan Sejarah Al-Qur’an. Rajawali Pers. Jakarta.
http://nulibya.wordpress.com
http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/3/1/pustaka-42.html

1 komentar: